Jenius Tak Selamanya Sempurna

 

“Ih gemes deh sama Baim ! Udah imut, ganteng, pinter akting, pipinya cabi pula….”,  seloroh Inez sambil melototin tayangan sinetron di sebuah stasiun televisi swasta. Kebetulan, pemain utamanya si Baim, aktor cilik yang lagi naik daun itu.

Masih dengan mata terkagum-kagum, Inez kembali bergumam sendirian, “Heran, kecil-kecil udah sepinter itu. Gimana kalo besar nanti? Pastinya ortunya bangga banget sama Baim. Bocah jenius beneran tuh anak…!”.

Weeew ….! Memang apa sih ciri-ciri anak jenius? Kok Inez semudah itu bilang bahwa Baim tergolong jenius?    Anda mau tahu apa saja kriteria jenius itu ? Simak daftar berikut :

  • Secara psikologis, si Jenius mengalami lompatan perkembangan. Karena itu, perkembangan intelektual dan bahasanya jauh di atas usia kalendernya.
  • Memiliki rasa ingin tahu yang besar, daya nalar yang luar biasa, dan kreatifitas menakjubkan.
  • Mempunyai energi yang luar biasa, sehingga gemar melakukan observasi, eksplorasi dan memiliki jam tidur yang lebih sedikit daripada anak-anak lainnya.
  • Sekalipun memiliki ketahanan kerja yang tinggi dan konsentrasi intens pada satu aktivitas, ia juga mampu melakukan kegiatan lain yang berbeda.
  • Mampu menangkap dan memproses informasi dengan sangat efisien dalam kapasitas besar.
  • Daya ingatnya luar biasa, mempunyai minat yang luas, dan selera humor yang tinggi.
  • Perfeksionis, mandiri dan menginginkan kerja menurut caranya sendiri.
  • Keinginannya mempelajari berbagai hal dapat membawanya pada pemikiran yang jauh, dan tak biasa dilakukan anak seusianya.
  • Sejak dini, sering kali sudah belajar membaca, menulis, dan berhitung dengan caranya sendiri. Karenanya, ia memerlukan latihan motorik halus secara intens.
  • Motivasinya selalu muncul dari dalam diri sendiri.
  • Senang menyelesaikan masalah, membuat konsep, abstraksi, dan sintetis.
  • Menekankan kejujuran, keadilan, dan kebenaran.

 

Meski ada berderet pertanda kejeniusan, semua itu tak selalu menyertai seorang anak jenius. Bagaimanapun, setiap anak jenius memiliki keunikan dan karakteristik yang berlainan satu sama lain. Proses tumbuh kembang mereka pun berbeda-beda. Bahkan, ada banyak bocah jenius istimewa yang cenderung hiperaktif, menunjukkan gejala sulit belajar, atau indikasi autisme.

Albert Einstein, contohnya. Si jenius ini tak bisa bicara hingga usia lima tahun pertama dalam hidupnya. Ia juga pernah mengalami dua kali kegagalan dalam ujian matematika di sekolahnya. Tak seorang pun yang mau memahami bahwa kegagalan itu lebih disebabkan karena kejeniusannya terlampau tinggi dan belum bisa di terima perkembangan ilmu pengetahuan pada masanya.

Kenyataanya bahwa Einstain mengalami disleksia kian menambah beban mentalnya. Gurunya bahkan terlanjur mengecap bocah jenius itu sebagai “Anak Bodoh”. Puncaknya, dia mengidap OCD (Obsessive-Compulsive Disorder)1. Gangguan psikis tersebut membuatnya tak mampu mengingat dan mengurutkan nama-nama bulan dalam setahun, namun ia berhasil memecahkan formula matematika tersulit, tanpa salah sedikitpun.

Dengan semua kekurangannya, apa yang lantas terjadi beberapa tahun kemudian? Einstain berhasil menulis paper pertamanya tentang teori relativitas, pada saat ia baru berusia 16 tahun. Bocah ajaib itu bahkan mahir mengalunkan nada-nada indah dengan biolanya. Tak jarang, ia memainkan biola sembari mencerna masalah-masalah fisika, hingga memperoleh inspirasi atau solusi jenius. Ia akhirnya berhasil melawan semua rintangan dalam hidupnya, kendati tak mudah dilakukan. Amaizing….!

Memang, apa yang dialami Einstein itu kasuistik. Namun, bukan berarti tak pernah terjadi kasus dimana seorang anak jenius atau berbakat istimewa mendapat perlakuan salah, lantaran orang-orang dewasa di sekitarnya keliru menafsirkan “Keistimewaan” yang dimilikinya. Akibatnya, kejeniusan anak itu menjadi sia-sia, bagai layu sebelum berkembang.

Karena itu, langkah terbaik bagi orang tua adalah terus memantau perkembangan si kecil. Jangan mudah terjebak oleh vonis yang dijatuhkan psikolog, pedagog, ataupun dokter anak. Tetap menjadi ayah-ibu yang bijak dan mampu memahami buah hati, bagaimanapun, merupakan tugas orang tua yang tak boleh ditinggalkan begitu saja.

 

 

Dicuplik dari

Buku “Anakku Luar Biasa Jenius”

Sunminaring Prasojo

No Comments

Post A Comment