Bagaimana Menjadikan Otak Jenius

Tahukah anda bahwa jenius ternyata merupakan gabungan dari berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor external ? Tentang hal tersebut, Kurt Heller bahwa telah menemukan model multidimensional yang dapat mewakili penjelasan bagaimana otak menjadi jenius.

Menurut Heller, ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap kejeniusan seorang anak. Faktor apa sajakah itu ?

  • Talenta, faktor ini terkait potensi yang tersembunyi di dalam diri setiap anak, dan belum digali dengan maksimal. Faktor ini terdiri dari :
  1. Kemampuan intelektual.
  2. Kreativitas.
  3. Kompetensi Sosial.
  4. Kecerdasan praktikal.

 

  • Karakteristik Non-Kognitif, Faktor ini bersifat internal dan diluar kemampuan kognitif anak, namun kelak membentuk konsep dirinya. Faktor tersebut meliputi :
  1. Daya tahan terhadap stress.
  2. Tingkat Motivasi untuk berprestasi.
  3. Strategi belajar dan berkarya.
  4. Kemampuan menghadapi kecemasan.
  5. Kemampuan mengontrol harapan.

 

  • Kondisi Lingkungan, Faktor ini berasal dari luar diri anak (lingkungan), yang juga berpengaruh atas kejeniusannya. Faktor tersebut meliputi :
  1. Lingkungan belajar yang ramah dan kondusif.
  2. Kondisi kelas di sekolah.
  3. Kualitas instruksi dan petunjuk.
  4. Momen kehidupan yang penting. 

 

Dukungan dan karakteristik non-kognitif dan kondisi lingkungan akan memperkuat talenta istimewa anak,  hingga terbentuk performa jenius. Performa inilah yang mewujudkan kecerdasan ganda atau multiple Intelligencies.

Model multidimensional ala Heller tersebut telah banyak dilirik oleh berbagai negara, untuk memfasilitasi pendidikan anak berbakat atau cerdas istimewa. Dengan mengacu pada model yang lebih humanis ini, sekolah dapat segera mengetahui kelebihan dan kekurangan setiap anak didiknya. Pun segera merancang program yang cocok untuk mengatasi kesulitan belajar siswa, atau menyusun kurikulum yang tepat bagi si bocah jenius.

Jadi jenius adalah padu padan yang indah lagi selaras antara potensi diri, lingkungan, genetis, dan konsep diri.

Lantas, bagaimana otak bisa jenius..?

Jawabnya, gali dan asahlah segala potensi positif dalam diri sang buah hati, bangun konsep dirinya untuk positif. Untuk itu, manfaatkan aneka aktivitas menarik ataupun permainan. Lalu, ciptakan atau temukan lingkungan yang kondusif dan humanis bagi proses tumbuh kembang si kecil.

Dalam hal ini, bagi penulis, faktor genetis bukanlah hal utama untuk mencetak anak jenius. Anggap saja sebagai bonus atau hadiah dari Allah SWT, yang tak mungkin ditolak begitu saja. Anda tidak perlu berkecil hati mengenai hal ini. Lihatlah sekitar kita, ada begitu banyak orang tua yang biasa-biasa saja, ternyata memiliki putra putri yang cerdas dan berguna bagi sesama.

Karena itu, mari kita fokuskan pada potensi dan konsep diri anak, serta lingkungan tempatnya bertumbuh kembang dan belajar. Konsekuensinya, keterlibatan aktif anda sebagai orang tua sangat di perlukan. Guru pun berperan sama besarnya, sehingga kejeniusan anak tak menjadi kemampuan yang sifatnya temporer atau sementara, artinya anak hanya cerdas, kreatif atau percaya diri jika berada di rumah saja. Ketika keluar dari zona aman tiba-tiba kecerdasannya lenyap tak berbekas.

Hal tersebut kerap kali dijumpai pada balita dalam bulan-bulan awal masa sekolahnya. Ketika Play Group misalnya, ada bocah yang mudah berdaptasi dan ramah kepada orang yang baru dikenalnya. Namun ada pula anak yang sangat pemalu dan pasif. Disinilah guru hendaknya bagaimana mengenali masing-masing karakter muridnya, lalu melakukan pendekatan terhadap mereka. Jalinlah komunikasi secara intensif dengan wali murid. Dengan demikian, apapun perkembangan anak di sekolah akan ditindaklanjuti oleh orang tuanya di rumah atau guru dapat memancing keluar apa yang sudah dikuasai anak di rumah, agar kemampuan itu bisa ditingkatkan di sekolah.

 

Sumber :

Buku “Anakku Luar Biasa Jenius”

Oleh: Suminaring Prasojo

No Comments

Post A Comment